HALAL ATAU HARAM

Makan Kue Aja Khawatir

Indonesia memiliki penduduk yang mayoritas adalah muslim, dimana para umat muslim ini memiliki aturan mengenai makanan yang halal dan tidak yang sering dinyatakan dengan istilah HALAL (boleh) atau HARAM (terlarang). Umumnya, mengenai HARAM dan HALAL ini dilihat berdasarkan bahan yang digunakan untuk memproduksi suatu makanan sederhananya apakah itu mengandung bahan-bahan yang memabukkan seperti alkohol, mengandung babi atau bahan terlarang lainnya. Mohon maaf jika saya tidak tahu terlalu banyak tentang apa saja yang masuk kategori haram ini khususnya dalam pembuatan kue karena mungkin aja karena istilahnya asing tapi kita tidak tahu detilnya misalnya gelatin yang diambil dari hewan babi ya tentu saja itu HARAM. Lalu bagaimana terhadap bahan lainnya yang betul-betul asing? Di luar dari apa yang kita tidak atau belum ketahui seharusnya itu menjadi tanggung jawab dari BPOM, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan MUI. Mereka lah yang seharusnya menjadi rakyatnya mendapatkan pengaturan dan pengawasan yang layak. Ya kita membayar pajak dan lain-lainnya loh.

Oke, untuk singkatnya mari kita fokuskan hanya kepada bahan yang mengandung alkohol ataupun yang dibuat dari hewan babi. Suatu hari, kami pernah tertarik ingin mencicip kue Coklat yang hangat dimana di dalam kue itu tersimpan coklat cair yang meleleh seketika kue itu dibuka. Sungguh sangat menarik!!! Tapi, ketika saya akan memakannya, saya tanya kepada pelayan maupun Chef di sana. "Kue ini mengandung alkohol tidak?". Dengan santai mereka menjawab "iya pak, ada unsur dan kandungan alkoholnya pak sedikit di dalam kue tersebut". Permasalahannya bukan sedikit atau tidaknya tapi ada unsur alkoholnya. Tentu aja kami marah dan memprotes "Kenapa tidak tertulis di dalam menu?! Kalian kan restoran mahal". Sungguh kesal rasanya. Buat apa kita buang uang tapi khawatir ketika akan memakan kue yang mahal dan berkesan begitu lezatnya.

Tidak sampai di situ, kami sendiri sering kali mendengar cerita-cerita dari ibu-ibu muslim atau kelompok suatu pengajian. Mereka selalu bercerita kalau tetangganya buka toko kue dan aromanya luar biasa sedap tapi tidak pernah sekalipun berani untuk membeli karena khawatir kuenya mengandung bahan yang tidak halal. Kalau itu kita tanyakan kepada si penjual ada rasa takut memancing permusuhan. Sungguh suatu dilema tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Hal ini juga semakin diperburuk karena Chef-Chef yang ada pada resto-resto dan hotel mewah merupakan lulusan luar sehingga mereka hanya diajarkan membuat kue dengan adoan yang menggunakan bahan-bahan yang tidak HALAL. Mungkin saja mereka tidak kreatif untuk mencoba menggantinya dengan bahan lain yang halal namun memiliki rasa dan fungi yang serupa dengan bahan yang tidak HALAL tersebut.

Mungkin tulisan ini bentuknya bersifat protes tapi inilah budaya kami dan mohon hargailah itu. Jangan buat kami khawatir dengan adanya makanan yang HARAM. Jika kalian tidak jujur dengan produk yang kalian buat maka masyarakat memiliki haknya untuk melaporkan kalian melalui YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) maupun menuntut para produsen ini ke meja hijau karena kalian tidak memenuhi aturan mengenai Perlindungan Konsumen. Kalian bebas memproduksi makanan namun ikutilah aturan yang ada dan hargailah budaya dan nilai-nilai yang hadir dan tumbuh di dalam masyarakt.

Comments

Popular Posts